"Sebagai murid Yesus, tidak cukup kita hanya mengerti ajaran-Nya secara intelektual. Kita perlu menghayati pesan-pesan itu dalam hidup kita sehari-hari." (Rm. Antonius Sad Budianto CM)

Renungan Harian Katolik Senin, 09 Oktober 2017

cintakasih.net_Pada suatu kali berdirilah seorang ahli taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus ku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis di dalam hukum Taurat? Apa yang kau baca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihanilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihanilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar, perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho, ia jatuh ketangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu; tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu; ia melewatinya dari seberang jalan.
 
Lalu datanglah seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu, dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kau belanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali,. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah dan perbuatlah demikaian!"

Renungan:
Yesus mengajarkan kesediaan berbela rasa dan kepedulian bagi sesama sebagai perwujudnyataan iman. Beriman kepada Allah semestinya menyata dalam relasi, sikap, dan perbuatan untuk orang lain. Relasi kasih untuk sesama selalu menghidupkan dan menyelamatkan. Karenanya, wajah kasih dan kemanusiaan selalu bersifat universal tanpa pembedaan (bdk.Luk. 10:36-37).

Renungan Harian Katolik Senin, 09 Oktober 2017
www.cintakasih.net

Adakalanya manusia mengesampingkan bahkan menolak panggilan untuk menghidupi dan bertindak dalam semangat kasih. Penolakan demikian lahir karena keengganan terlibat dalam tanggung jawab, adanya tindak kesombongan diri, dan sikap acuh tak acuh (bdk. Yun. 1:3). 
Panggilan kemuridan sejatinya menyata dalam kepedulian pada sesama dan kehidupan. Apa pun konsekuensinya, tindakan kasih dan berbela rasa merupakan tindaan utama sebagai seorang yang beriman kepada Allah yang adalah kasih. Apakah kita sudah menghidupi semangat kasih dan kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan?

Tuhan sumber kasih sejatih, berilah aku budi yang cerah dan hati yang penuh cinta. Semoga aku mampu menyatakan kasih-Mu bagi sesama. Amin.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Renungan Harian Katolik Senin, 09 Oktober 2017