"Sebagai murid Yesus, tidak cukup kita hanya mengerti ajaran-Nya secara intelektual. Kita perlu menghayati pesan-pesan itu dalam hidup kita sehari-hari." (Rm. Antonius Sad Budianto CM)

Renungan Harian Katolik Selasa, 19 September 2017

cintakasih.net_ Pada suatu ketika pergilah Yesus ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai jansa itu. Dan ketika Tuhan melihat janda it, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanyA: "Jangan menangis!" sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadam, bangkitlah!" Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: "Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita," dan "Allah telah melawat umat-Nya." Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

Renungan:
"Perjumpaan yang menghidupkan" demikianlah kita bisa menggambarkan kehadiran Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Ia menghibur yang berduka dan membawa kehidupan bagi yang mati. Di sekitar kita ada banyak orang "mati" dalam iman, harapan dan kasih, oleh karena pengalaman kehidupan yang pahit yang mereka alami. Maka, sebagai pengikut Yesus kehadiran kita diharapkan dapat menghidupkan kembali iman, harapan, dan kasih saudara-saudara yang mengalami derita.

Renungan Harian Katolik Selasa, 19 September 2017
www.cintakasih.net

Hal itu hanya mungkin jika kita menjadi teladan yang baik, sebagaimana kriteria yang dinasihatkan Paulus dalam bacaan pertama hari ini. Orang yang tak bercacat, perkawinan monogami, dapat menawan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, mengajar dengan baik, bukan peminum/pemabuk, bukan pemarah tetapi peramah, pendamai dan bukan hamba uang, tidak sombong, punya nama baik di luar, tidak bercabang lidah, tidak serakah, tidak memfitnah, dapat dipercaya dan hidup keluarga yang baik. Jika kriteria ini ada dalam diri kita, maka kehadiran kita betul-betul akan membawa kehidupan baru bagi orang lain dalam setiap perjumpaan. 

Tuhan Yesus, semoga dalam setiap perjumpaanku dengan orang lain, aku dapat menghidupkan mereka yang patah semangat dan dapat membantu yang menderita. Amin.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Renungan Harian Katolik Selasa, 19 September 2017