"Sebagai murid Yesus, tidak cukup kita hanya mengerti ajaran-Nya secara intelektual. Kita perlu menghayati pesan-pesan itu dalam hidup kita sehari-hari." (Rm. Antonius Sad Budianto CM)

Renungan Harian Katolik Minggu, 24 September 2017

cintakasih.net_Sekali peristiwa Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid-murid-Nya, "Hal Kerajaan Surga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain mengaggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan ku berikan kepadamu. Dan mereka pun pergi.

Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu mengaggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.

Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.

Renungan Harian Katolik Minggu, 24 September 2017
www.cintakasih.net

Renungan:
Suatu kali Sidney Henry bersama sahabatnya mampir ke sebuah tokoh penjual koran. Di sana ia mendapat perlakuan kasar dari penjual koran. Entah apa yang terjadi sebelumnya, tiba-tiba saja si penjual koran tampak bersungut-sungut dan bahkan membuang korang itu ke muka Hendry. Hendry tetap tenang dan bahkan tidak membalas, tetapi ia tetap tersenyum dan berkata: "Terima kasih, semoga akhir pekan anda menyenangkan." Dalam perjalanan pulang, sahabat Hendry bertanya: "Mengapa kamu tidak berlaku kasar juga kepadanya?" "Saya tidak mau cara saya bertindak ditentukan oleh orang lain. Saya mau menjadi pribadi yang aktif dan bukan reaktif," Jawab Hendry.

Inilah contoh yang dimaksud oleh Paulus, "Jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah" (Flp. 1:22a). Berbuah dalam sikap yang baik, dalam tutur kata dan tindakan, sambil mensyukuri segala berkat dalam hidup ini. Sebab, segala sesuatu merupakan anugerah semata dan kita tak perlu menuntut Allah. "Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku bermurah hati?" (Mat.20:15). Rencana dan pikiran kita tidaklah sama dengan yang dipikirkan dan direncanakan Allah.

Tuhan, ajarilah aku untuk senantiasa bersyukur dalam segala hal dan berusaha menemukan kehendak-Mu di balik setiap peristiwa dalam hidupku. Amin.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Renungan Harian Katolik Minggu, 24 September 2017