"Sebagai murid Yesus, tidak cukup kita hanya mengerti ajaran-Nya secara intelektual. Kita perlu menghayati pesan-pesan itu dalam hidup kita sehari-hari." (Rm. Antonius Sad Budianto CM)

Renungan Harian Katolik Jumat, 15 September 2017

cintakasih.net_ Ketika Maria dan Yusuf mempersembahkan Anak Yesus di Bait Allah, mereka amat heran mendengar pernyataan Simeon tentang Anak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Mariaibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak itu ditentukan untuk menjatuhakan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan- dan suatu pedang akan menebus juwamu sendiri-, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

Renungan:
"Dukacita mendahului kemenangan. Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian," Semangat seperti ini lahir dari dalam diri orang -orang yang memiliki iman, harapan dan kasih; inilah tanda-tanda seorang yang saleh. Jika tidak, penderitaan dan sakit sekecil apa pun akan dilihat sebagai suatu kemalangan dan bahkan akhir dari segalanya. Santo Paulus dalam surat kepada orang Ibrani (5:7-9) menyampaikan dengan jelas tentang katekase penderitaan.: Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Yesus telah belajar menjadi taat di tengah gejolak dan tantangan yang mengancam jiwa-Nya, bahkan sampai Ia harus menderita wafat di kayu salib. Oleh ketaatan-Nya itu, Ia mencapai kesempurnaan dan menjadi pokok keselamatan kita. Ketaatan Yesus bukan ketaatan buta, tetapi lahir dari iman, harapan, dan kasih-Nya pada Bapa.

Renungan Harian Katolik Jumat, 15 September 2017
www.cintakasih.net

Inilah juga yang dialami Bunda Maria. Bagai sebilah pedang menusuk jantungnya tatkala  ia menyaksikan sendiri bagaimana anak terkasihnya, Yesus, ditolak oleh orang sekampungnya, dibenci dan dipergunjingkan oleh para ulama dan pemimpin bangsanya sendiri, bahkan disesah, dicaci maki, diseret dan disalibkan hingga wafat di kayu salib. Puncak kepedihan hati Maria amat terasa ketika memangku tubuh tak bernyawa anak semata wayangnya, di Bukit Golgota, selepas diturunkan dari salib. Pedih dan teramat perih. Namun iman, harapan dan kasih Bunda Maria pada Allah membuat dia harus tunduk dan taat pada kehendak-Nya. Semuanya itu harus dilalui menuju kemuliaan kebangkitan.

Tuhan Yesus, berilah aku iman yang teguh dan kasih yang taat seperti Bunda Maria, agar aku kuat bertahan di dalam segala cobaan dan derita hidup sebagai jalan menuju keselamatan. Amin.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Renungan Harian Katolik Jumat, 15 September 2017