"Sebagai murid Yesus, tidak cukup kita hanya mengerti ajaran-Nya secara intelektual. Kita perlu menghayati pesan-pesan itu dalam hidup kita sehari-hari." (Rm. Antonius Sad Budianto CM)

Landasan Teologis Pendidikan Agama Katolik (PAK) Kurikulum 2013

cintakasih.net_ Pendidikan Agama Kristen telah ada sejak pembentukan umat Allah yang dimulai dengan panggilan terhadap Abraham. Hal ini berlanjut dalam lingkungan dua belas suku Israel sampai dengan zaman Perjanjian Baru. Sinagoga atau rumah ibadah orang Yahudi bukan hanya menjadi tempat ibadah melainkan menjadi pusat kegiatan pendidikan bagi anak-anak dan keluarga orang Yahudi. Beberapa nas di bawah ini dipilih untuk mendukungnya, yaitu:

1. Kitab Ulangan 6: 4-9.

Allah memerintahkan umat-Nya untuk mengajarkan tentang kasih Allah kepada anak-anak dan kaum muda. Perintah ini kemudian menjadi kewajiban normatif bagi umat Kristen dan lembaga gereja untuk mengajarkan kasih Allah. Dalam kaitannya dengan Pendidikan Agama Kristen bagian Alkitab ini telah menjadi dasar dalam menyusun dan mengembangkan Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.

2. Amsal 22: 6

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. Betapa pentingnya penanaman nilai-nilai iman yang bersumber dari Alkitab bagi generasi muda, seperti tumbuhan yang sejak awal pertumbuhannya harus diberikan pupuk dan air, demikian pula kehidupan iman orang percaya harus dimulai sejak dini. Bahkan ada pakar PAK yang mengatakan pendidikan agama harus diberikan sejak dalam kandungan ibu sampai
akhir hidup seseorang.

Landasan Teologis Pendidikan Agama Katolik (PAK) Kurikulum 2013
 www.cintakasih.net

3. Matius 28:19-20

Tuhan Yesus Kristus memberikan amanat kepada tiap orang percaya untuk pergi ke seluruh penjuru dunia dan mengajarkan tentang kasih Allah. Perintah ini telah menjadi dasar bagi tiap orang percaya untuk turut bertanggung jawab terhadap Pendidikan Agama Kristen. Sejarah perjalanan agama Kristen turut dipengaruhi oleh peran Pendidikan Agama Kristen sebagai pembentuk sikap, karakter dan iman orang Kristen dalam keluarga, gereja dan lembaga pendidikan. Oleh karena itu, lembaga gereja, keluarga dan sekolah secara bersama-sama bertanggung jawab dalam tugas mengajar dan mendidik anakanak, remaja, dan kaum muda untuk mengenal Allah Pencipta, Penyelamat, Pembaru,
dan mewujudkan ajaran itu dalam kehidupan sehari-hari.

Sejarah perkembangan Pendidikan Agama Kristen diwarnai oleh dua pemetaan pemikiran. Masing-masing pemikiran memiliki pembenarannya dalam sejarah, yaitu pemikiran bahwa ruang lingkup pembahasan PAK seharusnya mengacu pada kronologi Alkitab sedangkan pemikiran lainnya adalah pembahasan PAK seharusnya mengacu pada tema-tema tertentu menyangkut problematika kehidupan. Dua pemikiran ini dikenal dengan Bible oriented dan issue oriented. Jika ditelusuri sejak zaman PL, PB sampai dengan sebelum reformasi, pengajaran iman Kristen umumnya mengacu pada kronologi Alkitab namun sejak reformasi berbagai tema kehidupan telah menjadi lingkup pembahasan PAK. Artinya terjadi pergeseran dari Bible oriented ke issue oriented. Hal ini berkaitan dengan pemahaman bahwa iman harus mewujud di dalam tindakan atau praksis kehidupan. Menurut 

Groome praksis bukan sekadar tindakan atau aksi melainkan praktik kehidupan yang melibatkan ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik secara menyeluruh. Berkaitan dengan dua pemikiran tersebut, ruang lingkup pembahasan PAK di SD-SMA dipetakan dalam dua strand, yaitu Allah Tritunggal dan karya-karya-Nya serta nilai-nilai kristiani. Dua strand ini mengakomodir ruang lingkup pembahasan PAK yang bersifat pendekatan yang berpusat pada Alkitab dan tema-tema penting dalam kehidupan. Melalui pembahasan inilah diharapkan siswa dapat mengalami “perjumpaan dengan Allah”. Hasil dari perjumpaan itu adalah terjadinya transformasi kehidupan.

Pemetaan ruang lingkup PAK yang mengacu pada tema-tema kehidupan ini tidak mudah untuk dilakukan karena amat sulit mengubah mind set kebanyakan teolog, pakar PAK maupun guru-guru PAK. Umumnya mereka masih merasa asing dengan berbagai pembahasan materi yang mengacu pada tema-tema kehidupan. Misalnya: demokrasi, Hak Asasi Manusia, keadilan, gender, ekologi. Seolah-olah pembahasan mengenai tema-tema tersebut bukanlah menjadi ciri khas PAK. Padahal, teologi yang menjadi dasar bagi bangunan PAK baru berfungsi ketika bertemu dengan realitas kehidupan. Jadi, pemetaan lingkup pembahasan PAK tidak dapat mengabaikan salah satu dari dua pemetaan tersebut di atas; baik issue oriented maupun Bible oriented.

Mengacu pada hasil Lokakarya Strategi PAK di Indonesia yang diadakan oleh Departemen BINDIK PGI bersama dengan Bimas Kristen Depag RI bahwa isi PAK di sekolah membahas mengenai nilai-nilai iman tanpa mengabaikan dogma atau ajaran. Namun, pembahasan mengenai tradisi dan ajaran (dogma) secara lebih spesifik diserahkan pada gereja (menjadi bagian dari pembahasan PAK di Gereja). Keputusan tersebut muncul berdasarkan pertimbangan: Mengacu pada hasil Lokakarya Strategi PAK di Indonesia yang diadakan oleh Departemen BINDIK PGI bersama dengan Bimas Kristen Depag RI bahwa isi PAK di sekolah membahas mengenai nilai-nilai iman tanpa mengabaikan dogma atau ajaran. Namun, pembahasan mengenai tradisi dan ajaran (Dogma) secara lebih spesifik diserahkan pada gereja (menjadi bagian dari pembahasan PAK di Gereja). Keputusan tersebut muncul berdasarkan pertimbangan:
  • Gereja Kristen terdiri dari berbagai denominasi dengan berbagai tradisi dan ajaran karena itu menyangkut doktrin yang lebih spesifik tidak diajarkan di sekolah.
  • Menghindari tumpang tindih (overlapping) materi PAK di sekolah dan di gereja.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Landasan Teologis Pendidikan Agama Katolik (PAK) Kurikulum 2013